Pengertian Rasionalisme, Empirisme, Positivisme dan Kritisisme


  1. Rasionalisme adalah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula. Dicari dengan akal ialah dicari dengan berfikir logis. Diukur dengan akal artinya diuji apakah temuan itu logis atau tidak. Bila logis, benar; bila tidak, salah. Dengan akal itulah aturan untuk mengatur manusia dan alam itu dibuat. Ini juga berarti bahwa kebenaran itu bersumber pada akal.[1] Rasionalisme itu berpendirian, sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena Rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran.[2] Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.[3]
  • Kelebihan Rasionalisme adalah dalam menalar dan menjelaskan pemahaman-pemahaman yang rumit, kemudian Rasionalisme memberikan kontribusi pada mereka yang tertarik untuk menggeluti masalah – masalah filosofi. Rasionalisme berpikir menjelaskan dan menekankan kala budi sebagai karunia lebih yang dimiliki oleh semua manusia, mampu menyusun sistem-sistem kefilsafatan yang berasal dari manusia.[4]
  • Kelemahan rasionalisme adalah memahami objek di luar cakupan rasionalitas sehingga titik kelemahan tersebut mengundang kritikan tajam, sekaligus memulai permusuhan baru dengan sesama pemikir filsafat yang kurang setuju dengan sistem-sistem filosofis yang subjektif tersebut, doktrin-doktrin filsafat rasio cenderung mementingkan subjek daripada objek, sehingga rasionalisme hanya berpikir yang keluar dari akal budinya saja yang benar, tanpa memerhatikan objek – objek rasional secara peka.[5]

22. Empirisme adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti empiris. Dengan empirisme aturan (untuk mengatur manusia dan alam) itu dibuat. Empirisme juga memiliki kekurangan yaitu ia belum terukur. Empirisme hanya sampai pada konsep-konsep yang umum.[6] Seorang empirisme biasanya berpendirian, kita dapat memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan diperoleh dengan perantaraan indera.[7]
  • Kelebihan empirisme adalah pengalaman indera merupakan sumber pengetahuan yang benar, karena faham empiris mengedepankan fakta-fakta yang terjadi di lapangan.
  • Kelemahan empirisme cukup banyak diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Indra terbatas. Benda yang jauh kelihatan kecil..
b. ndera menipu. Pada orang yang sakit malaria, gulanya rasanya  pahit, udara panas dirasakan dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.
c. Objek yang menipu. Contohnya ilusi, fatamorgana. Jadi, objek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia tangkap oleh alat indera; ia membohongi indera. Ini jelas dapat menimbulkan inderawi yang salah.
d. Indera dan objek sekaligus. Empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia.[8]

3. Positivisme     adalah mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya, yang terukur. “Terukur” inilah sumbangan penting positivisme.Positivisme sudah dapat disetujui untuk memulai upaya membuat aturan untuk mengatur manusia dan mengatur alam.[9]Positivisme adalah bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid, dan fakta-fakta sajalah yang dapat menjadi obyek pengetahuan.Dengan demikian, positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subyek dibelakang fakta, menolak segala penggunaan metoda diluar yang digunakan untuk menelaah fakta.[10]
4. Kritisisme adalah menolak paham salinan yang menyangkut penerapan dan pengetahuan berdasarkan alasan-alasan.[11]
1) Bagi Descartes tidak ada satu setan yang licik pun dapat mengganggu aku, tak seorang skeptis pun mampu meragukannya, yaitu saya sedang ragu.Tidak dapat diragukan bahwa saya sedang ragu.Aku yang sedang ragu itu disebabkan oleh aku berpikir.Aku berpikir pasti ada dan benar.Jika aku berpikir ada, berarti aku ada sebab yang berpikir itu aku.Cogito ergo sum, aku berpikir, jadi aku ada. Descartes memulai filsafat dari metode.Metode keraguan itu bukanlah tujuannya.Tujuan metode ini bukanlah untuk mempertahankan keraguan.Metode ini bergerak dari keraguan menuju kepastian.Ia tidak pernah meragukan bahwa ia mampu menemukan keyakinan yang berada dibalik keraguan itu, dan menggunakannya untuk membuktikan suatu kepastian dibalik sesuatu. Pemikiran fondasi aku yang berpikir itu pantas dijadikan dasar filsafat karena benar-benar ada, tidak diragukan, bukan kamu atau pikiranmu.[12]
2) Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu. Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalarannya, mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggapnya benar.[13]Secara objektif kebenaran dapat dikembalikan kepada objek materi, keluasan dan kedalam objek forma, derajat dan system yang berlaku atau yang ada di dalamnya.Pertama, mempertimbangkan objek materinya, dimana filsafat mempelajari segala sesuatu yang ada.Kebenaran ilmu pengetahuan filsafat bersifat umum-universal, tidak terkait dengan jenis-jenis objek tertentu.Kedua, ditinjau dari objek formanya, kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat metafisis, dalam arti meliputi ruang lingkup material-khusus sampai kepada hal-hal yang abstrak-universal.Ketiga, dicermati metode-metode yang digunakan oleh filsafat, sifat kebenaran ilmu pengetahuan filsafat yang abstrak-metafisis semakin jelas.Karena metode kefilsafatan itu terarah dalm mencapai pengetahuan yang esensial atas setiap hal dan pengetahuan eksistensial daripada sesuatu dalam keterkaitan yang utuh (kesatuan).[14]
  • Kebenaran berdasarkan teori koherensi, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
  • Kebenaran berdasarkan teori korespondensi, jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
  • Teori koherensi dan teori korespondensi keduanya dipergunakan dalam cara berpikir ilmiah. Penalaran teoritis yang berdasarkan logika deduktif jelas mempergunakan teori koherensi.

    Kebenaran berdasarkan teori pragmatis, suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.Pragmatisme bukanlah suatu aliran filsafat yang mempunyai doktrin-doktrin filsafati melainkan teori dalam penentuan kriteria kebenaran.[15]
  • Kebenaran teori filsafat ditentukan oleh logis tidaknya teori itu. Ukuran logis tidaknya akan terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan (teori) itu.[16]
  • Kebenaran menurut rasionalisme , para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran (dan, ipso facto, pengetahuan) mengandung makan mempunyai ide yang sesuai dengan atau yang menunujuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.[17]
  • Kebenaran menurut positivisme atau pengujian kebenaran dari fakta atau obyek didasarkan pada pengalaman manusia, atau dalam hal ini maka pernyataan ada atau tidak adanya sesuatu haruslah memenuhi persyaratan pengujian publik.[18]

4. Pengetahuan apriori : pengetahuan yang tidak tergantung pada adanya pengalaman atau yang ada sebelum pengalaman.
  -Pengetahuan aposteriori : terjadi sebagai akibat pengalaman. Bagi Kant, penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman, meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi, para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.[19]

5. Dalam pandangan Comte, untuk menciptakan masyarakat baru yang serba teratur, maka   diperlukan adanya upaya perbaikan jiwa atau budi terlebih dahulu. Adapun jiwa atau budi itu berkembang dalam tiga tahap (law of three stages), yaitu:
a. Tahap Teologis
    Dalam tahap ini, masyarakat percaya akan kekuatan supranatural dan agama di atas segala-galanya. Manusia menempatkan diri sebagai peserta atau penggembira, yang kemudian dalam istilah Bruhl disebut dengan “mental partisipasi”, di mana manusia dalam hidupnya tidak dapat lebih selain ikut serta dalam proses-proses kosmos yang dikendalikan oleh gagasan-gagasan keagamaan. Dunia fisik maupun dunia sosial dipandang sebagai produk Tuhan. Bentuk-bentuk pemikiran tahap awal perkembangan atau evolusi manusia ini antara lain adalah fethisisme dan animisme yang menganggap bahwa alam semesta ini berjiwa. Benda-benda dianggap sebagai sosok particular, unik, individual dan bukan sesuatu yang abstrak dan umum.Dunia dihayati sebagai kediaman roh-roh atau bangsa halus, sebagai cerminan penghayatan keIlahian manusia purba.
    Selain fethisisme dan animisme, berkembang faham baru dalam tahap teologi ini, yaitu faham Politheisme, di mana faham ini mulai menyatukan dan mengelompokkan semua benda dan kejadian alam dengan berdasar pada kesamaan-kesamaannya.Dengan demikian, menggambarkan upaya manusia untuk berpikir lebih teratur, terti dan lebih sederhana dalam memandang alam semesta yang beraneka ragam. Dari sini, kemudian akan sampai pada pandangan monotheisme, yang mana dapat berpikir lebih sistematik. Kekuatan yang puspa ragam itu disederhanakan menjadi satu Tuhan yang berdaulat penuh dan berkuasa mutlak atas langit dan bumi.

b.   Tahap Metafisik
    Dalam tahap ini, manusia berkeyakinan bahwa kekuatan abstrak dan bukan personifikasi Tuhan adalah sumber kekuatan fisik maupun sosial. Dengan kata lain, ketika mencoba menjelaskan berbagai peristiwa dan fenomena alam, manusia mencoba melakukan abstraksi dengan kekuatan akal budinya, sehingga diperoleh pengertian-pengertian metafisis. Prinsip-prinsip penjelasan tentang realitas, fenomena dan berbagai peristiwa dicari dari alam itu sendiri. Akan tetapi, penjelasan yang dilakukan belum bersifat empirik, maka cara menjelaskan berbagai realm kehidupan itu tidak berhasil membuahkan ilmu pengetahuan baru, dan belum dapat menjelaskan hukum alam, kodrat manusia, keharusan mutlak dan berbagai pengertian lainnya. Sehingga menurut Comte, cara berfikir metafisik ini sebenarnya adalah pergantian nama dari cara berfikir teologis. Baginya, cara berfikir manusia harus keluar dari tradisi teologis maupun metafisik untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai sarana mencari kebenaran.

c.    Tahap Positivistic
     Dalam tahap ini, manusia sampai pada pengetahuan yang tidak lagi abstrak, tetapi pasti, jelas dan bermanfaat, selain itu masyarakat mempercayai pengetahuan ilmiah dan manusia berkonsentrasi pada kegiatan observasi untuk menemukan keteraturan dunia fisik maupun sosial.

     Pada tahap ini, gejala alam diterangkan oleh akal-budi berdasarkan hukumnya yang dapat ditinjau, diuji, dan dibuktikan atas dasar metode empirik. Manusia tumbuh menjadi kekuatan yang mampu menggunakan akal-budinya untuk menemukan pengetahuan baru, yang menjadi focus perhatian ilmu pengetahuan adalah jawaban atas pertanyaan, “Bagaimana sesuatu dapat terjadi, bukan kenapa ia terjadi?” dalam tahap inilah pemikiran positivistic, empirik dan naturalistic menggantikan otoritas pengetahuan teologis serta pengetahuan metafisis. Orde empirik yang disandarkan kepada pencerahan akal-budi, seperti yang diimpikan oleh Rene Descartes (1596-1650, yang mana ia berkeinginan untuk mendasarkan keyakinannya pada sebuah landasan yang mempunyai kepastian yang mutlak) muncul kepermukaan, sehingga menandai dimulainya suatu perubahan cara hidup manusia yang baru. Cara berfikir spekulatif, normologik harus menyerahkan otoritas hegemoniknya kepada dominasi berfikir empirik-nomotetik, cara berfikir yang menganut pengetahuan nauralistik.

    Dengan keyakinan kebenaran law of three stages, Comte melihat sejarah sebagai suatu derap atau gerak perkembangan yang dapat mengantarkan setiap orang atau masyarakat ke masa depan yang sama yaitu kemajuan (progress). Makna yang terkandung dalam law of three stages, tidak lain adalah “positif” dalam arti kemajuan. Keyakinannya dilukiskan dalam citranya terhadap masyarakat yang sampai pada tahap positif, yaitu masyarakat yang terbaik, karena kaum elite cendekiawan dan industrialis dengan sikapnya yang rasional dan ilmiah akan mampu membentuk rezim yang akan mengatur kehidupan masyarakat atas dasar cinta kasih sebagai pedomannya, ketertiban sebaga landasannya dan kemajuan sebagai tujuannya.[20]

DAFTAR PUSTAKA
_AM., Suhar, Filsafat Umum Konsepsi, Sejarah dan Aliran, Jakarta: Gaung Persada Press,2009.
_Kattsoff, Louis O., Pengantar filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.
_Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2009.
_Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum akal dan hati sejak thales sampai capra, Bandung: Rosda, 1990.
_Tafsir, Ahmad, Filsafat Ilmu, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2010.
_Tafsir, Ahmad, Filsafat Ilmu mengurai ontology, epistemology, dan aksiologi pengetahuan, _Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010
_http://almakmun.blogspot.com/2008/07/positivisme.html
_http://mahrusali611.blogspot.com/2013/04/kelebihan-dan-kelemahan-aliran.html

[1]Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010. Hlm. 30
[2]Louis O.Kattsoff, Pengantar filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992. Hlm. 139
[3]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum akal dan hati sejak thales sampai capra, Bandung: Rosda, 1990. Hlm. 127
[4]http://mahrusali611.blogspot.com/2013/04/kelebihan-dan-kelemahan-aliran.html

[5]http://mahrusali611.blogspot.com/2013/04/kelebihan-dan-kelemahan-aliran.html
[6]Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010. Hlm. Hlm. 31-32
[7]Louis O.Kattsoff, Pengantar filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992. Hlm. 136
[8]http://mahrusali611.blogspot.com/2013/04/kelebihan-dan-kelemahan-aliran.html
[9]Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010. Hlm. 32-33
[10]http://almakmun.blogspot.com/2008/07/positivisme.html
[11]Louis O.Kattsoff, Pengantar filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992. Hlm. 156
[12]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum akal dan hati sejak thales sampai capra, Bandung: Rosda, 1990. Hlm.131-132
[13]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2009. Hlm. 50
[14]Suhar AM, Filsafat Umum Konsepsi, Sejarah dan Aliran, Jakarta: Gaung Persada Press 2009. Hlm. 45-46
[15]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2009. Hlm. 57-59
[16]Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu mengurai ontology, epistemology, dan aksiologi pengetahuan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010. Hlm. 88
[17]Louis O.Kattsoff, Pengantar filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992. Hlm. 139
[18]http://almakmun.blogspot.com/2008/07/positivisme.html
[19]Louis O.Kattsoff, Pengantar filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992. Hlm. 143-144
[20]http://almakmun.blogspot.com/2008/07/positivisme.html
Previous
Next Post »
2 Komentar